Berikut adalah rincian detail mengenai pengelompokan dan jumlah golongan Syiah:
1. Klasifikasi Berdasarkan Kitab Klasik
Beberapa ulama ahli sejarah aliran (Hereseologi) memberikan angka yang berbeda-beda mengenai jumlah sekte Syiah:
Abu al-Hasan al-Ash'ari (dalam Maqalat al-Islamiyyin): Menyebutkan ada sekitar 15-20 sekte utama yang kemudian bercabang lagi menjadi sub-sekte yang lebih kecil.
Abdul Qahir al-Baghdadi (dalam Al-Farqu bainal Firaq): Mengelompokkan Syiah ke dalam 4 golongan besar (Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah, dan Ghulat) yang secara total mencapai 20 sekte.
An-Naubakhti (dalam Firaq al-Shi'ah): Salah satu sumber internal Syiah tertua ini mencatat perkembangan sekte-sekte tersebut secara sangat rinci sejak wafatnya Nabi hingga masa Imam ke-11, dengan jumlah pecahan yang mencapai puluhan seiring setiap pergantian Imam.
2. Empat Akar Golongan Utama
Hampir seluruh puluhan sekte Syiah tersebut bermuara pada empat kelompok besar ini:
Kaisaniyah: Kelompok awal yang meyakini imamah Muhammad bin al-Hanafiyah (putra Ali bin Abi Thalib dari istri selain Fatimah). Kelompok ini sudah punah (ekstink).
Zaidiyah (Fivers): Pengikut Zaid bin Ali. Kelompok ini memiliki banyak cabang di masa lalu, namun sekarang terkonsentrasi di Yaman.
Imamiyah (Itsna Asyariyah/Twelvers): Kelompok terbesar saat ini yang meyakini 12 Imam. Di masa lalu, kelompok ini juga sempat pecah menjadi beberapa sub-sekte seperti Qath'iyyah dan Waqifiyyah.
Ismailiyah (Seveners): Pengikut Ismail bin Ja'far. Kelompok ini pecah lagi menjadi banyak cabang seperti Nizariyah (dipimpin Aga Khan), Musta'liyah (Bohra), dan Druze.
3. Kelompok Ghulat (Ekstrim)
Kelompok inilah yang sering menyumbang jumlah "puluhan" dalam catatan ustadz atau ulama karena sifatnya yang sangat banyak dan seringkali muncul lalu hilang. Ghulat adalah kelompok yang mendewakan Ali bin Abi Thalib atau para Imam secara berlebihan. Beberapa di antaranya adalah:
Sabaiyyah: Pengikut Abdullah bin Saba.
Nushairiyah (Alawit): Masih ada di Suriah.
Mughiriyyah, Manshuriyyah, Khattabiyyah, dan banyak lagi kelompok kecil lainnya yang biasanya hanya bertahan satu atau dua generasi saja.
4. Mengapa Jumlahnya Sangat Banyak?
Alasan utama Syiah terpecah menjadi puluhan golongan adalah masalah suksesi kepemimpinan (Imamah). Setiap kali seorang Imam wafat, para pengikutnya sering berbeda pendapat mengenai siapa putra Imam tersebut yang berhak menjadi penerus. Sebagai contoh, setelah wafatnya Imam Ja'far ash-Shadiq, pengikutnya terpecah menjadi setidaknya 6 kelompok berbeda (ada yang ke Isma'il, Musa al-Kadzim, Abdullah al-Afthah, dsb).
Ringkasan Kondisi Saat Ini
Meskipun dalam sejarah tercatat ada puluhan bahkan ratusan nama sekte (jika menghitung setiap kelompok kecil di daerah terpencil), secara sosiologis dan politik saat ini, dunia Syiah didominasi oleh:
- Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam): ±85% dari total populasi Syiah.
- Ismailiyah: Minoritas yang tersebar di India, Pakistan, dan Afrika.
- Zaidiyah: Mayoritas di Yaman.
Syiah secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok utama berdasarkan perbedaan pandangan mengenai urutan imamah (pemimpin) setelah Nabi Muhammad SAW, yaitu Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam), Ismailiyah (Syiah Tujuh Imam), dan Zaidiyah. Selain itu, terdapat kelompok Ghulat (ekstrim) yang ajarannya dianggap menyimpang dari Islam arus utama.
Itsna Asyariyah (Imamiyah/Ja'fariyah): Kelompok mayoritas (terbesar) yang meyakini dua belas imam, dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada Imam Mahdi. Kelompok ini mendominasi di Iran, Irak, dan banyak dianut di Indonesia.
Ismailiyah (Tujuh Imam): Kelompok yang mengakui imam-imam hingga Imam keenam (Ja'far ash-Shadiq), namun berbeda dalam menetapkan Imam ketujuh, yaitu Ismail bin Ja'far.
Zaidiyah: Kelompok yang paling dekat dengan Ahlussunnah, tidak membatasi jumlah imam, dan tidak mengkafirkan sahabat nabi secara mutlak. Zaidiyah meyakini imam adalah keturunan Fatimah yang alim dan berani.
Ghulat (Ekstrim): Sekte yang meyakini imam memiliki sifat ketuhanan atau ajaran lain yang menyimpang. Contohnya Sabaiyyah (pengikut Abdullah bin Saba') dan Mukhtariyyah.
Kelompok Itsna Asyariyah sering juga disebut sebagai Jafariyah atau Imamiyah yang menjadi arus utama Syiah saat ini.
Ayatollah Ali Khamenei menganut aliran Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam).
Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, beliau mengikuti tradisi keagamaan dan hukum yang spesifik dalam kelompok ini, yaitu:
Mazhab Hukum (Fikih): Beliau mengikuti mazhab Ja'fari, yang merupakan sistem hukum utama dalam Syiah Itsna Asyariyah.
Aliran Pemikiran (Kredo): Beliau termasuk dalam kelompok Usuli, yaitu aliran yang menekankan penggunaan ijtihad (penalaran akal) oleh para ulama (mujtahid) dalam menetapkan hukum Islam.
Gelar Keagamaan: Beliau menyandang gelar Ayatollah dan diakui sebagai seorang Marja' al-Taqlid (sumber teladan/referensi hukum) bagi pengikutnya.
Posisi Politik-Religius: Beliau memegang jabatan Wali al-Faqih (ahli hukum pelindung), sebuah konsep kepemimpinan dalam Republik Islam Iran yang memberikan otoritas keagamaan dan politik tertinggi kepada seorang ulama senior.
Informasi terbaru melaporkan bahwa Ali Khamenei telah wafat pada akhir Februari atau awal Maret 2026.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai konsep Wilayatul Faqih yang menjadi dasar kepemimpinan beliau di Iran?
Pandangan kelompok Syiah Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam) terhadap para sahabat Nabi bersifat kompleks dan berbeda dengan pandangan Ahlussunnah (Sunni). Secara umum, mereka tidak membenci seluruh sahabat, namun memiliki kriteria penilaian yang ketat berdasarkan loyalitas kepada Ahlul Bait.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai pandangan tersebut:
1. Penolakan terhadap Konsep Kesalehan Seluruh Sahabat
Berbeda dengan Sunni yang meyakini seluruh sahabat Nabi adalah adil (saleh) tanpa kecuali, Syiah Itsna Asyariyah berpendapat bahwa sahabat adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah, dosa, bahkan murtad setelah wafatnya Nabi. Mereka membagi sahabat ke dalam beberapa kategori:
Sahabat yang Setia: Mereka sangat menghormati sahabat yang setia kepada Ali bin Abi Thalib, seperti Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin Aswad, dan Ammar bin Yasir.
Sahabat yang Dikritik: Mereka memiliki pandangan negatif atau kritis terhadap beberapa sahabat besar, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, karena dianggap telah merampas hak kepemimpinan (khalifah) Ali bin Abi Thalib.
2. Fatwa Larangan Menghina (Subbul Sahabah)
Meskipun terdapat tradisi mencela di sebagian kalangan internal, pemimpin tertinggi Syiah Itsna Asyariyah saat ini, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengeluarkan fatwa resmi yang mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol dan tokoh-tokoh yang dihormati oleh umat Sunni, termasuk para sahabat dan istri-istri Nabi seperti Aisyah.
Tujuan Fatwa: Untuk menjaga persatuan umat Islam (Ukhuwah Islamiyah) dan mencegah konflik sektarian.
Cakupan: Fatwa ini melarang tindakan mencaci (mencela secara lisan) tokoh-tokoh kunci Sunni di ruang publik maupun dalam literatur modern yang bertujuan memprovokasi.
3. Perbedaan dalam Periwayatan Hadis
Karena keraguan terhadap integritas sebagian sahabat, Syiah Itsna Asyariyah cenderung menolak hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang dianggap memusuhi Ahlul Bait. Mereka lebih mengutamakan hadis yang bersumber dari garis keturunan para Imam dari keluarga Nabi.
Apakah Anda ingin membahas lebih detail mengenai perbedaan kriteria sahabat menurut pandangan Sunni dan Syiah?

0 Comments:
Posting Komentar