Di masa Rasulullah SAW, hiduplah seorang pemuda bernama Al-Qamah. ia adalah sosok yang rajin shalat, gemar berpuasa, rajin bersedekah, dan baik kepada semua orang.
Al-Qamah cukup dekat dengan Nabi, dan di kenal oleh para sahabat, karena kebaikan dan ketekunannya dalam beribadah.
Ibunya yang sudah tua sangat bangga terhadap Al-Qamah.
Ketika Al-Qamah beranjak dewasa dan membina sebuah rumah tangga.
Al-Qamah menikahi seorang gadis cantik yang sangat ia cintai. Pernikahan ini adalah moment yang sangat membahagiakan bagi Al-Qamah. Setiap hari Al-Qamah berusaha untuk membahagiakan istrinya dengan berbagai hal yang disukainya.Kehidupan Al-Qamah berjalan dengan baik penuh kebahagiaan.
Suatu hari, Al-Qamah jatuh sakit.
Dan Inilah awal mula tragedi itu terungkap.
Istrinya membawa Al-Qamah ke tabib untuk berobat. namun semakin hari, penyakit AlQamah tidak juga membaik, malah semakin memburuk.
Hingga pada suatu hari, Al-Qamah sudah tidak bisa lagi menahan sakitnya, dan maut pun sudah dekat untuk menjemputnya.
Namun Saat maut mulai menjemput, Lidah Al-Qamah mendadak kelu, tak bisa mengucapkan syahadat.
Istrinya pun panik dengan kondisi tersebut, Ia berusaha untuk menuntunnya bersyahadat.
Di sinilah kejadian yang sangat mengherankan.
Berkali-kali istrinya menuntun Al-Qamah untuk mengucap syahadat, namun lidahnya kelu dan tak mampu mengucapkannya.
hingga akhirnya dia mengirim utusan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, untuk mengabarkan bahwa suaminya sedang dalam keadaan sakaratul maut, dan tidak mampu mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terdiam sejenak merasa keheranan. Namun tak lama kemudian, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus beberapa sahabat antara lain: Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi, dan Bilal bin Rabah untuk menjenguk Al-Qamah dan membimbingnya mengucapkan syahadat.
Namun tetap saja, ketika ketiga sahabat itu menuntunnya untuk mengucap syahadat, lidah Al-Qamah seolah terkunci, dan tak mampu mengucapkannya. Ia hanya bisa mengerang kesakitan tanpa mampu mengagungkan Tuhannya.
Sampailah Kabar ini sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Tanpa berpikir panjang, Rasulullah pun berangkat menemui A-Qamah di rumahnya.
Kemudian Rasulullah mencoba menuntun Al-Qamah untuk bersyahadat.
"Wahai Al-Qamah ucapkanlah " Laa ilaaha Illallah..."
Namun keadaan masih tetap seperti tadi. Al-Qamah tak mampu mengucapkannya. lidah seolah terkunci,
Rasulullahpun heran dan Beliau berpikir beberapa saat...
Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah ia masih memiliki orang tua?"
Sesorang menjawab, "Ada ya Rasulullah, dia masih memiliki seorang ibu yang sudah sangat tua."
Rasulullah pun menemui sang ibu tersebut. Di sana terungkaplah sebuah kenyataan yang menyayat hati. Sang ibu berkata dengan suara gemetar karena merasakan sakit hati yang sudah cukup lama:
"Ya Rasulullah, aku murka kepadanya. Ia tidak pernah peduli kepadaku. Ia sangat sibuk mengurus istrinya dan melupakan aku. Ia lebih mengutamakan istrinya daripada aku. Ia lebih menuruti kata-kata istrinya dan mengabaikan aku, ia anak yang durhaka kepadaku."
Bukan karena Al-Qamah tidak shalat, tapi karena ada hati yang hancur di sudut rumah yang tua. Air mata ibu yang tumpah karena merasa dikesampingkan oleh anak yang telah dikandungnya selama 9 bulan, anak yang telah dilahirkanya dengan susah payah.
Anak yang telah di susuinya selama 2 tahun. Dan anak yang yang ia rawat hingga dewasa.
Namun setelah anak itu menikah dan punya istri, dia lupa pada perjuangan sang ibu.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…”
Qur'an surat Luqman, ayat 14.
Rasulullahpun terdiam... Inilah yang manjadi penghalang, lidahnya Al-Qamah terkunci untuk mengucap 2 kalimah syahadat di akhir hayatnya.
Namun di sisi lain, Rasulullahpun bisa merasakan apa yang ibunda Al-Qamah rasakan saat itu.
Sekali lagi Rasulullah mencoba membujuk ibunda Al-Qamah untuk memaafkan kesalahan-kesalahan Al-Qamah. Namun sang Ibu tetap tidak mau memaafkannya.
Hingga akhirnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, memerintahkan Bilal untuk mengumpulkan kayu bakar:
"Wahai Bilal, kumpulkan kayu bakar yang banyak, aku akan membakar Al-Qamah di depan ibunya."
Bilalpun menuruti. Ia pergi untuk mengumpulkan kayu bakar yang cukup banyak, sesuai permintaan Rasulullah.
Setelah kayu bakar terkumpul, dan Rasulullah beranjak untuk menyalakan api hendak membakar tumpukan kayu.
tiba-tiba ibunda Al-Qamah bertanya. "Wahai Rasulullah, apa yang hendak engkau lakukan dengan kayu kayu bakar itu?
Rasulullah pun menjawab: "Wahai ibu, jika engkau tidak mau memaafkan Al-Qamah, maka aku akan membakarnya untuk menebus siksanya di neraka."
Mendengar jawaban Rasulullah seperti itu, Ibunda Al-Qamah pun menjerit histeris. Beliau tidak tega melihat anaknya dibakar hidup-hidup di depan matanya. Tangis sang ibu pun pecah. "Wahai Rasulullah, dia ini buah hatiku! Bagaimana engkau akan membakar putraku di depan mataku?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menjawab dengan lembut namun tegas:
"Wahai ibu Al-Qamah, azab Allah jauh lebih pedih dan abadi di banding api dunia ini. Jika engkau ingin Allah mengampuninya, maka maafkanlah dia. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, shalat dan sedekahnya tidak akan berguna selama engkau masih murka kepadanya."
Sambil menangis tersedu-sedu, sang ibu pun mengangkat tangannya ke langit dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah! aku telah ridha kepada putraku Al-Qamah. Dan aku sudah memaafkan semua kesalahannya. Maka maafkanlah dia ya Allah."
Seketika itu juga, dari kamar Al-Qamah terdengar suara lantang: "Laa ilaha illallah..." Al-Qamah menghembuskan napas terakhirnya dengan lisan yang basah dengan tauhid.
Kisah ini adalah peringatan keras bagi kita. Sesukses apapun keadaan kita, setinggi apapun jabatan kita, jangan sekai-kali menyakiti hati orangtua.
Jangan sekali-kali kita mengabaikan keduanya.
Allah subhanahuwata'ala berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah'. dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Qur'an surat Al-Isra, ayat 23.
Di dalam salah satu hadits, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua."
Hadis riwayat imam Tirmidzi.
Bayangkan wajah ibumu saat ini. Ingatlah saat ia menahan lapar agar kau kenyang, saat ia terbangun di tengah malam hanya karena tangisan kecilmu, dan saat ia menyembunyikan kesedihannya agar kau tetap tegar.
Jangan sampai kita menjadi "Al-Qamah modern". Yang dahi hitam karena sujud, namun hatinya buta terhadap air mata ibu, yang merasa kesepian. Yang lebih manis tutur katanya kepada teman atau pasangan, namun ketus dan tidak sabar saat meladeni pertanyaan ibu yang mulai pikun.
Pintu surga itu kini masih ada di rumahmu. Ia bernama "Ibu". Jika ia masih hidup, kejarlah dia. Bersimpuhlah di kakinya. Mintalah maaf seolah-olah besok adalah hari terakhirmu melihat wajahnya. Karena jika pintu itu sudah tertutup, hilanglah salah satu jalan pintasmu menuju surga.
Tips Tambahan untuk Algoritma YouTube:
Tags/Keywords: Kisah Al-Qamah, Cerita Islami Menyentuh Hati, Sakaratul Maut, Durhaka kepada Ibu, Syahadat Terkunci, Hikmah Kehidupan.
Thumbnail Idea: Foto ilustrasi orang sakaratul maut dengan tulisan besar: "IBADAH 40 TAHUN SIA-SIA?" atau "LIDAHNYA TERKUNCI!"
Pinned Comment: "Pernahkah kalian merasa melakukan kesalahan kecil pada orang tua yang sangat kalian sesali? Coba tulis di kolom komentar sebagai pengingat kita bersama." (Ini akan memicu engagement tinggi).

0 Comments:
Posting Komentar