Yang saya cintai yang saya muliakan para alim ulama, para Kyai, para asatidz, para tokoh masyarakat
Wabil khusus ketua DKM masjid imam masjid pengajar-pengajar di mesjid, ketua panitia peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad beserta seluruh panitia, para tokoh masyarakat para aparat pemerintah beserta seluruh hadirin dan hadirat, bapak-bapak ibu-ibu pemuda-pemudi umat Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
Alhamdulillah segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan kepada kita nikmat yang sangat besar. Allah telah memberikan kepada kita keagungan yang sangat besar. Allah telah memberikan kepada kita Rahmat yang sangat besar.
Apa nikmat Allah yang sangat besar? apa karunia Allah yang sangat besar? apa rahmat Allah yang sangat besar?
Nikmat karunia Rahmat anugerah Allah yang sangat besar bukan iman bukan Islam bukan Taqwa tetapi Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Karena berkat Nabi Muhammad SAW Saya dan kalian mengenal Iman, mengenal Islam, mengenal Taqwa, mengenal shalat mengenal syariat.
Sebagaimana yang Allah katakan dalam Alquran;
Katakanlah... dengan karunia Allah dan dengan rahmat Allah maka dengan karunia dan rahmat tersebut falyafrohu... bergembiralah kalian.
Dalam kitab tafsir ma'alimut tandzim, Al imam baghowi, dan dalam kitab tafsir jami'ul Bayan Al Imam Ibnu jarir Ath thobari, begitu juga dalam kitab tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwasanya fadlulloh dalam ayat tersebut adalah al-qur'an.
Sedangkan Sayyidina Abbas menafsirkan. fadlulloh dalam ayat tersebut adalah ilmu. Maka dengan adanya karunia Allah yaitu al-qur'an dan ilmu, dan dengan adanya rahmat Allah siapa? rahmat Allah Baginda Nabi Besar Muhammad, maka dengan adanya karunia dan rahmat tersebut, falyafrohu... bergembiralah kalian semua, senanglah kalian semua.
Dengan adanya anugerah dan rahmat Allah, duduknya kita disini sebagai bukti kegembiraan kita dengan adanya Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau nikmat yang begitu besar, beliau rahmat Allah yang sangat besar untuk kita semua, dan Allah jadikan kita sebagai umatnya beliau Allah jadikan kita sebagai ummatnya nabi Muhammad SAW, umat yang terbaik, umat yang paling mulia, umat yang paling Agung, umat yang kelak di Yaumil kiamah akan menjadi pemimpin daripada seluruh umat.
Seluruh umat dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman, umat yang dimana akan berdiri di posisi paling depan membawa benderanya Baginda Nabi Besar Muhammad, umat yang sangat dibangga-banggakan oleh Nabi Muhammad, umat yang dimana para nabi-nabi dan rasul terdahulu, mereka iri kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad.
Dalam kitab Nashoihul Ibad, Imam Ibnu Hajar al-asqalani dijelaskan bahwasanya nabi Allah Adam Alaihis Sallam Beliau berkata: aku iri kepada umat Muhammad, aku iri kepada umat Muhammad.
Kenapa?
Karena Allah memberikan kepada mereka empat macam kemuliaan yang tidak pernah Allah berikan kepadaku tapi Allah berikan kepada mereka.
Apa empat macam kemuliaan yang Allah berikan untuk kita tapi tidak Allah berikan kepada Nabi Adam?
Yang pertama: Kata Nabiyullah Adam alaihissalam, Allah menerima taubatku ketika aku berada di Kota Mekah saja dan tidak di kota-kota yang lain, tetapi bagi umat Nabi Muhammad, dimanapun mereka bertobat Allah terima tobatnya.
Ketahuilah saudara-saudara, nabi Allah Adam ketika Allah keluarkan dari surga itu Allah turunkan di India, dibawah kaki gunung Himalaya.
Siti Hawa Allah turunkan di Jedah, iblis Allah turunkan di Bashrah.
Selama 450 tahun Nabi Adam bertobat, Taubat beliau belum diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika beliau berada di Kota Mekah baru Taubat beliau diterima itupun karena beliau membawa namanya Baginda Nabi Besar Muhammad.
Beliau berdo'a: Yaa Rabb... demi hak Muhammad demi kehormatan Muhammad kemuliaan Muhammad, demi keagungan Muhammad, terima taubatku ya Allah...
Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’. (HR. al-Hakim, at-Thabrani dan al-Baihaqi).
Di dalam hadits lain disebutkan:
Apa kata Nabi Adam, Allah menerima Taubatku kata Nabi Adam ketika aku berada di kota Mekkah, sedangkan bagi umat Muhammad dimanapun mereka berada jika mereka mau bertaubat dari dosa tidak harus ke kota Mekkah, dimanapun tempatnya mereka bertaubat pasti Allah terima taubatnya, sedangkan aku hanya di Kota Mekah dan tidak di tempat yang lain. Itu yang pertama.
Yang kedua: apa kata Nabi Adam? ketika aku berbuat salah Allah pisahkan aku dengan istriku Hawa hanya karena satu kesalahan, satu kesalahan yang aku perbuat aku makan buah khuldi, Allah pisahkan aku dengan bahwa Selama ratusan tahun. Tetapi bagi umat Muhammad Pagi siang sore malam mereka bermaksiat, tidak Allah pisahkan mereka dengan anak dan istri mereka, Aku cuma satu kali berbuat salah, Allah pisahkan aku dengan Hawa, sedangkan umat Muhammad Ribuan kali, jutaan kali bermaksiat tidak dipisahkan mereka dengan anak dan istri mereka.
Yang ketiga apa kata Nabi Adam?: aku berbuat salah dalam keadaan berpakaian, dalam keadaan tertutup Auratku, karena Allah murka maka Allah lepaskan pakaianku sehingga terlihat auratku, sedangkan Ummat Muhammad, mereka berbuat dosa dalam keadaan telanjang, tapi tetep Allah kasih mereka pakaian, aku berbuat salah dalam keadaan berpakaian Allah lepaskan, umat Muhammad mereka berbuat dosa dalam keadaan melepaskan pakaian tapi Allah tutupi mereka dengan pakaian
Yang Keempat apa kata Nabi Adam?: aku berbuat salah di dalam sorga lalu Allah murka, Allah keluarkan aku ke dunia. Umat Muhammad kebalik mereka berbuat dosa di dunia tapi kalau bertobat taubatnya diterima, mereka meninggal Khusnul Khotimah Allah masukkan mereka ke surga.
Kebalik kata Nabi Adam... aku berbuat salah di surga Allah keluarkan, sedangkan umat Muhammad berbuat dosa di dunia memasukkan mereka ke surga. Aku iri kepada umat Muhammad sungguh aku ingin menjadi umat Muhammad.
Lihat Bagaimana kemuliaan umat Nabi Muhammad SAW
===
Nabi Musa Alaihissalam ketika beliau naik ke bukit Thursina, beliau berdoa: ya Allah aku ingin melihat cahaya-Mu, Aku ingin melihat zat-Mu aku, ingin melihat wajah-Mu Ya Allah
Apa kata Allah: wahai Musa kau takkan sanggup kau tidak akan kuat untuk melihat cahayaKu. Ketahuilah wahai Musa, antara diriku dengan hamba-hamba-ku ditutupi dengan 70.000 hijab, 70.000 penghalang yang menutupi antara diriku dengan hamba-hamba-ku.
Al Imam Al-Ghazali menjelaskan. penghalang Allah itu Allah ciptakan dari cahaya dari air dan dari kegelapan. Di dalam penghalang Allah, ada suara gemuruh air, ada suara air yang sedang mengalir. itu dalam penghalang Allah Andaikan saya dan kalian manusia biasa Allah perdengarkan telinga kita ini untuk bisa mendengar suara air yang ada dalam penghalang Allah sangking ketakutan hati kita akan copot dari badan, hati kita akan keluar sendiri dari badannya sangking Dahsyatnya suara penghalang.
Dan Andaikan Allah buka satu penghalang Allah dan di Perlihatkan kepada gunung-gunung maka gunung-gunung akan hancur tenggelam dan tidak akan muncul sampai datangnya hari kiamat.
Apa kata karena Allah wahai Musa 70.000 penghalang ini tidak akan aku buka kepada siapapun kecuali untuk Muhammad dan untuk ummat Muhammad, apa kata Nabi Musa Alaihissalam: Ya Allah kalau begitu jadikanlah aku bagian di daripada umat Muhammad.
Nabi Musa ingin menjadi umat Nabi Muhammad bahkan diriwayatkan bahwasanya Sayyidina Syekh Abil Hasan asy-syadzili pengarang Hizbull bahar hizbun nashar Pengarang kitab mafakhirul Aliyah, Beliau pernah bermimpi, dalam mimpinya beliau melihat ada Nabi Muhammad dan ada Nabi Musa sedang ngobrol
Nabi musa bilang sama Rasulullah wahai Muhammad aku dengar engkau pernah berkata dalam sabdamu bahwasanya ulama umatikal Anbiya Bani isroil. ulama dari golonganku itu bagaikan golongan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil Apakah betul wahai Muhammad?
Apa kata Rasulullah Iya betul ulama umat ku itu kepintarannya sama seperti kepintaran nabi-nabi dari kalangan Bani Israil.
Apa kata Nabi Musa? coba seperti apa sih ulama umatmu itu aku pengen lihat. Kemudian Nabi Muhammad memanggil Imam Al-Ghazali. di dalam mimpinya Syekh Husaini hasan As-Sadzili Imam Ghazali dipanggil oleh Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad bilang ini salah satu daripada ulama umatku yang aku banggakan. akhirnya Kata Nabi Musa Siapa namamu? Kata imam Ghazali apa? Anna Muhammad bin Muhammad bin Muhammad
Kata Nabi Musa stop!... wahai Muhammad, Inikah yang kamu bilang pinter? saya nanya siapa namanya dia jawab Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, kalau dia pinter cukup dia jawab Muhammad stop, jadi gak perlu dia bilang hammad bin Muhammad.
Kata Nabi Musa kalau kamu pinter cukup kamu jawab Mohammad enggak usah kamu bilang Muhammad bin Muhammad bin Muhammad... kepanjangan
Apa kata Imam Ghozali? Ya Rasulallah, izinkan aku untuk menjawab ya Rasulallah... diizinkan oleh Rasullah, dijawab oleh Imam Ghazali: wahai Musa kalimullah... dulu Allah pernah nanya: wahai Musa apa yang ada di tanganmu?, engkau bilang ya Allah ini tongkat. Tongkat ini untuk menyandar, tongkat ini untuk memukul, Harusnya kalau kau pintar, cukup kau jawab ini tongkat, enggak usah kau bilang tongkat ini untuk ini untuk ini untuk ini, karena Allah nanya apa yang ada di tanganmu, Allah tidak nanya untuk apa itu...
Apa kata Nabi Musa? karena aku ingin bercakap-cakap lama dengan Allah, aku ingin punya waktu yang panjang dengan Allah untuk mengambil berkah adri Allah...
Apa kata Imam Ghozali? Begitupun aku jawab dengan jawaban yang panjang untuk bercakap-cakap lama denganmu agar aku mendapatkan keberkahan darimu yang pernah berbicara dengan Allah.
Baru diakui oleh Nabi Musa kepintaran ulama daripada umatnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Coba kau lihat dalam kitab fashail ummatul Muhammadiyah, dalam kitab keutamaan-keutamaan kekhususan khususan Ya Allah kasih kepada umat Nabi Muhammad, umat terdahulu kalau mereka berbuat dosa Allah yang segampang mengampuni dosa Mereka
Bani Israel kalau mereka perbuat dosa, mereka harus cari jurang yang tinggi loncat kebawah sampai mati baru diterima taubatnya oleh Allah.
Kita di kasih kemudahan oleh Allah.
Umat terdahulu kalau anggota tubuh mereka ada yang terkena najis harus dihilangkan dengan kulit kulitnya, bagi kita tidak! jika kita terkena najis najis cukup hilangkan najis itu. Kalau mugholadoh (najisnya berat) pakai air dicampur dengan tanah.
Allah kasih kita kemudahan, Allah kasih kita keutamaan karena apa? Karena kita adalah umat Nabi Muhammad
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
kamu sekalian umat yang paling bagus umat yang paling baik umat yang paling utama umat yang paling mulia yang keluar kan bagi segenap manusi.
Kenapa kau jadi umat yang terbaik? Kenapa kau jadi umat yang termulia?
Bukan karena shalatmu bukan karna ibadahmu, bukan karena amalmu, bukan karena ilmumu. tapi karena kau saya dan kita ini adalah umat Nabi Muhammad saw yang membuat kita menjadi mulia karena kemuliaan Nabi Muhammad.
Mekah menjadi kota yang mulia karena Mekkah kota kelahiran Nabi Muhammad. Madinah menjadi kota yang Mulia karena Madinah kota hijrah dan kota wafatnya Nabi Muhammad. Hajar Aswad menjadi batu yang mulia karena Hajar Aswad pernah dicium oleh bibirnya Nabi Muhammad.
Buroq menjadi kendaraan yang mulia karena buroq pernah ditunggangi oleh Nabi Muhammad. Bahkan ada salah satu ulama yang mempertanyakan, Siapa yang lebih mulia? sendalnya nabi atau Malaikat Jibril Alaihissalam? Jibril Alaihissalam tidak pernah berjumpa langsung dengan Allah Tetapi Nabi Muhammad bahkan sendalnya telah berjumpa dengan Allah.
Dalam kitab Al anwaarul Al-bahiyyah dijelaskan sendalnya nabi berjumpa dengan Allah. kenapa sandal itu menjadi mulia? sandal itu menjadi mulia karena dipakai oleh kaki yang mulia kakinya baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Seseorang bertanya kepada salah seorang ulama: Siapa yang lebih mulia Kabah ataukah maqbarahnya nabi? Kabah ataukah kuburnya nabi? yang lebih mulia apa? Jawab ulama: kalau kita lihat dari kuburnya maka Kakbah lebih mulia Tetapi kalau dilihat dari sesuatu yang bersemayam dalam kubur itu, maka sesuatu yang bersemayam dalam kubur itu lebih mulia daripada Kabah, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Kita menjadi mulia karena nabi Muhammad
Tidaklah aku memuji nabi dengan syairku aku tidak memuliakan Nabi dengan syairku, aku tidaklah aku mengagungkan nabi dengan syairku tetapi syairku yang menjadi mulia karena telah memuliakan Nabi Muhammad, Syairku yang menjadi Agung karena telah mengagungkan Nabi Muhammad SAW Syairku yang menjadi terpuji karena telah memuji Nabi Muhammad.
Kita semua yang duduk di sini merayakan Maulid Nabi. Nabi Muhammad tidak butuh tapi kita yang butuh untuk merayakan maulid Nabi. Kita di sini memuliakan Nabi mengagungkan nabi Nabi tidak butuh tapi kita yang butuh untuk memuliakan dan mengagungkan Nabi Muhammad.
Kita duduk di sini bersholawat kepada nabi memuji nabi mengagungkan Nabi itu tidak akan menambahkan kemuliaan nabi. kalau dengan kamu bersalawat menambahkan kemuliaan Nabi berarti Nabi butuh dengan sholawat kita.
Kita memuliakan Nabi tidak menambahkan kemuliaan nabi tapi itu menambahkan kemuliaan kita. Kita tidak bersalawat tidak mengagungkan beliau itu juga tidak akan mengurangi kemuliaan beliau karena beliau kemuliaannya lautan jadi tinta, pohon jadi pena digunakan untuk melukis kemuliaan nabi, lautan jadi tinta pohon jadi pena tidak akan sanggup untuk melukis untuk memuliakan Nabi Muhammad maka saya dan kalian menjadi mulia karena kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
Allah memerintahkan seluruh penghuni langit untuk bersujud kepada Adam. Namun, mengapa demikian? Para ulama menjelaskan, pertama-tama hal ini dilakukan untuk memuliakan Nur Nabi Muhammad yang tersemat dalam tulang sum-sum Nabi Adam alaihissalam. Oleh karena itu, ketika Iblis enggan untuk bersujud, Allah marah dengan sangat. Perlu dicatat bahwa Allah tidak hanya memandang kepada Nabi Adam sendiri, tetapi lebih kepada cahaya (Nur) Nabi Muhammad yang ada dalam tulang sulbi Nabi Adam.
Saudara-saudara,
Ulama-ulama Salaf kita memiliki kebiasaan ketika mendengar adzan. Mereka meletakkan kedua jempol mereka di langit-langit mulut, kemudian mereka mengusapkan kedua jempol tersebut ke dahi mereka sambil mengucapkan: "Marhaban Bihabibi wa qurrata 'Aini."
Ketika Nabi Adam alaihissalam masih hidup, beliau selalu mendapatkan kehadiran malaikat yang menemaninya, di mana pun beliau pergi. Nabi Adam pun bertanya, "Ya Allah, mengapa setiap kali aku pergi, selalu ada malaikat yang mengikutiku?"
Allah menjawab, "Hal ini karena mereka tertarik dengan cahaya yang terdapat dalam dirimu. Cahaya yang ada dalam tulang sulbimu ini adalah cahaya dari salah satu cucuku."
Akhirnya, Nabi Adam memohon kepada Allah, "Ya Allah, jika demikian, tolong pindahkan cahaya ini kehadapanku." Maka, cahaya Nabi Muhammad dipindahkan di hadapan Nabi Adam.
Ketika cahaya tersebut dipindahkan, malaikat yang tadinya mengikuti Nabi Adam berpindah posisi dan berdiri di hadapan Nabi Adam.
Nabi Adam merasa penasaran dengan bentuk cahaya ini, sehingga malaikat begitu terpikat olehnya. Nabi Adam berdoa, "Ya Allah, jika memang demikian, tolong pindahkan cahaya ini ke kedua kuku tanganku agar aku dapat melihat seperti apa cahaya ini."
Cahaya tersebut akhirnya diletakkan dalam kedua kuku tangan Nabi Adam, dan beliau dapat melihat keindahannya dengan jelas.
Sebagai catatan, saat Nabi Muhammad wafat, cahaya tersebut seakan-akan diletakkan di dalam kuburnya. Melihat keindahan cahaya tersebut dari luar kubur, Nabi Muhammad hanya berkata, "Marhaban bihabibi waqurrata 'aini, " Hal ini mencerminkan keagungan cahaya Nabi Muhammad dan rasa rendah hati beliau.
Saudara-saudara
Dalam kisah ini terkandung pelajaran tentang keagungan dan kedermawanan Allah, serta keistimewaan Nabi Muhammad. Mari kita mengambil hikmah dari cerita ini untuk meningkatkan cinta dan pengagungan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakan Nabi Adam. Dalam tulang-tulangnya, terpancarlah cahaya yang melambangkan kemuliaan Nabi Besar Muhammad, utusan Allah yang agung.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah melindungi Nabi Nuh dari banjir besar yang melanda, serta menyelamatkan Nabi Ibrahim dari mara bahaya Api Namrud. Sejarah ini mengisyaratkan tentang hubungan rahasia yang terjalin antara Nabi Ibrahim dan cahaya keagungan Nabi Besar Muhammad.
Tatkala Nabi Ismail hampir dikorbankan oleh ayahnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengubahnya menjadi seekor domba. Ini menunjukkan pengorbanan dan perlindungan ilahi, sekaligus menyiratkan cahaya Nabi Besar Muhammad.
Kita, sebagai umat Nabi Muhammad, juga akan mendapat perlindungan dan keselamatan. Ini adalah karunia Allah bagi kita, dan bagian dari rahmat-Nya kepada umat Nabi Muhammad.
Jadi, mengapa kita sebagai umat Nabi Muhammad merayakan Maulid? Mengapa Maulid adalah lebih berharga bagi kita daripada hari raya lainnya? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui pemahaman terhadap makna yang dalam.
Banyak di antara kita telah mendengar bahwa Maulid bukanlah hari raya, tetapi lebih dari itu. Maulid bukanlah sekadar merayakan kelahiran Nabi Muhammad secara fisik, tetapi lebih pada penghormatan dan pengagungan terhadap teladan dan ajaran-Nya. Bagi kita, merayakan Maulid adalah lebih agung daripada hari-hari besar lainnya.
Maulid bukan hanya merayakan peristiwa sejarah, tetapi juga mendorong kita untuk memahami ajaran Nabi Muhammad dengan lebih dalam. Seperti dalam ilmu fikih, terdapat berbagai tingkatan pemahaman, dari matan (teks asli), syarah (penjelasan), hingga hawasyi (penjelasan rinci). Demikian pula, dalam Maulid, kita diberi kesempatan untuk memahami lebih dalam ajaran Nabi Muhammad.
Ada kutipan dari Imam Idrus bin Salim al-Jufri, seorang guru tua yang dikenal dengan sebutan al-imam al-habib. Dia menjelaskan tentang pentingnya Maulid dalam sebuah buku, mengatakan bahwa malam kelahiran Nabi Muhammad adalah malam yang paling mulia di antara semua malam. Ini mengandung pesan spiritual bahwa malam kelahiran Nabi adalah lebih istimewa daripada malam-malam lainnya, termasuk malam Lailatul Qadar.
Tidak hanya itu, Maulid juga mengandung pesan tentang pengharapan dan rahmat Allah. Riwayat tentang Abu Lahab yang mendapat keringanan dalam siksaan neraka setiap hari Senin karena bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat menghargai kegembiraan kita terhadap kelahiran Nabi.
Namun, dalam merayakan Maulid, kita harus menghindari pandangan sempit yang menilai ulama yang mengkritik perayaan Maulid sebagai keliru. Bukanlah bid'ah yang dimaksudkan dalam pandangan ini, tetapi pemahaman keliru tentang pelaksanaan Maulid yang melenceng dari ajaran Nabi Muhammad. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk merayakan Maulid dengan penuh kesadaran, dalam kerangka penghormatan dan pengagungan terhadap Rasulullah.
Maulid adalah waktu yang baik untuk merefleksikan pengaruh Nabi Muhammad dalam hidup kita. Mengambil pelajaran dari perjuangannya, nilai-nilai yang diajarkan, dan moral yang ditekankan oleh beliau, kita dapat membimbing diri kita menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih berarti.
Dalam kesimpulannya, merayakan Maulid adalah lebih dari sekadar perayaan fisik tentang kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah kesempatan untuk memahami lebih dalam pesan spiritual, pengaruh moral, dan ajaran-ajaran penting yang ditinggalkan oleh Rasulullah. Dengan merayakan Maulid dengan pemahaman yang tepat, kita dapat memuliakan kelahiran Nabi Besar Muhammad dan menjadikan teladan hidup beliau sebagai inspirasi dalam mengarungi kehidupan kita.
0 Comments:
Posting Komentar